[Bukan Review] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

Post-artikel-template-kucumbu-tubuh-indahku

Akhir minggu seperti biasa, kita nonton film.

Tulisan ini bukan review, hanya bercerita sedikit mengenai film yang cukup banyak menuai protes dari beberapa kelompok masyarakat beberapa waktu lalu. Bahkan diboikot dan dilarang tayang di beberapa kota. Pasalnya, film ini kental dengan unsur LGBT dan menampilkannya dengan cukup eksplisit. Saran saya, bagi Anda yang tidak setuju dengan isu ini sebaiknya tidak usah menonton filmnya.

Yup, film itu berjudul “Kucumbu Tubuh Indahku“. Menggambarkan tentang kisah seorang penari lengger lanang di daerah banyumas, Jawa Tengah.

Post-artikel-template-kucumbu-tubuh-indahku-1
img\imdb

Film besutan sineas kawakan Garin Nugroho ini memenangkan Piala Citra FFI 2019 terbanyak pada 8 kategori termasuk di dalamnya Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Juga meraih nominasi dan menang pada beberapa festival film internasional.

Garin terinspirasi oleh kisah seorang penari lengger lanang, Rianto Manali, yang hingga sekarang sudah berkeliling ke puluhan negara untuk memperkenalkan kesenian tari lengger. Bagi yang belum tahu, tari lengger lanang adalah tarian lengger dengan gerakan perempuan yang dibawakan oleh lelaki. Tari ini khas masyarakat Banyumas. Tidak diketahui kapan awalnya tari lengger ini diciptakan.

Rianto Manali diadaptasikan ke dalam film sebagai tokoh Juno yang dalam hidupnya mengalami banyak pengalaman, konflik, kekerasan, hingga gejolak batin dan kegamangannya akan sisi maskulin dan feminin dalam dirinya. Dipresentasikan dengan baik dalam beberapa fragmen kisah.

Berbagai macam konflik dan kekerasan sudah ia saksikan dan alami dari semasa kecil. Kepergian sang ayah dan tidak hadirnya sosok ibu memaksa Juno harus hidup dengan berpindah-pindah tempat. Masa Juno remaja digambarkan dengan pengenalan dan penjelajahannya akan seksualitas dengan lebih dalam yang dipicu oleh pertemuannya dengan seorang petinju tampan berbadan kekar yang diperankan oleh Randy Pangalila. Pertemuan itu diawali saat itu Juno bekerja membantu pamannya yang seorang penjahit yang mendapat pesanan pakaian pernikahan sang petinju.

Memasuki usia dewasa Juno mulai aktif keliling menari bersama kelompok tari lengger. Kali ini Juno mulai menikmati menari dengan riasan dan berpakaian layaknya penari perempuan. Ia masuk lebih jauh ke dalam sebagai penari lengger langgar.

Konflik pun kembali muncul tatkala Juno menolak ajakan seorang bupati untuk berhubungan intim demi menjalankan sebuah ritual sebagai syarat agar bupati tersebut menang dalam pemilihan bupati selanjutnya. Juno kemudian berlindung kepada seorang warok yang kemudian menjadikan Juno sebagai gemblak-nya. Penolakan Juno terhadap ajakan bupati tersebut mengakibatkan kelompok tari lenggernya diusir dari desa itu.

Narasi dari Juno Dewasa (diperankan oleh Rianto sendiri) menutup rangkaian fragmen dalam film ini.

Di dalam film ini tidak diinformasikan mengenai setting waktu dan nama tempat. Entah terjadi di tahun berapa. Hanya saja, diperlihatkan mengenai tari lengger, reog, dan warok, yang kemudian dapat kita asumsikan cerita ini terjadi di daerah jawa tengah dan timur.

Dalam sebuah wawancara Garin menjelaskan bahwa seluruh sequence dalam film ini menggambarkan alur yang berupa “peristiwa sederhana”, “munculnya konflik”, “memuncak pada kekerasan yang berdarah”, dan “diakhiri dengan nyanyian” (sebagai katarsis). Alur ini yang menurut Garin terjadi sekarang. Seperti yang ia lihat sehari-hari terjadi di sekitar kita, baik pada lingkup kultural, sosial, politik, dan lain-lain.

Melalui film ini, Garin juga ingin menyampaikan pesan perihal trauma yang dialami oleh manusia. Trauma tidak hanya soal psikis, namun juga trauma sosial, kultural, sejarah, politik, hingga trauma mengenai kefemininan dan kemaskulinan. Namun apabila trauma tersebut bisa dikelola dengan baik, tentunya akan membuahkan hal yang positif.

Post-artikel-template-kucumbu-tubuh-indahku
img\diedit dari tirto.id

Film ini, walau cukup bisa saya nikmati, memiliki alur yang terhitung lambat dan tidak mudah untuk dicerna. Apalagi saya bukan seorang movigoers. Ada beberapa bagian yang tidak bisa secara langsung saya mengerti. Memang jenis film seperti ini biasa dipentaskan dalam ajang festival film.

Apabila dilihat secara menyeluruh, menurut saya film ini sama sekali tidak bertujuan mempromosikan isu transgender (LGBT). Film ini hanyalah potret mengenai jalan hidup seorang penari lengger. Dan tari ataupun penari lengger tersebut ada dan merupakan bagian dari budaya masyarakat Banyumas. Memang sensitif bagi beberapa kelompok masyarakat, namun saya sebagai penikmat film mencoba mengambil sisi positif dari apa yang disampaikan melalui film ini.

Kehidupan manusia itu kompleks. Banyak hal yang sebenarnya terjadi tapi tidak kita ketahui. Harapannya kita selalu bisa mawas diri dan mengambil hal positif dari setiap peristiwa dan menyuguhkannya kembali dalam bentuk kemanfaatan bagi sesama.

— sandy —

 

Leave a Reply