Butuh Belajar Lagi untuk Membaca Berita

Post-artikel-template-baca-koran

Jangan Keliru Saat Membaca Berita

baca-koran-2

Ada saudara saya bertanya kepada saya mengenai beberapa postingan dari akun media sosial milik kawannya yang berisi share pemberitaan dari situs portal berita yang kebanyakan isinya ngawur dan tidak jelas faktanya. Mungkin saudara saya itu menganggap saya mengerti isu-isu yang bersifat nasional dan global, jadi buru-buru ia konfirmasi ke saya.

Ya, saya cuma tersenyum-senyum saja. Lha, saya tidak ngerti apa-apa. Dikiranya saya diam dengan muka serius ini sedang mikirin kondisi negara. Jelas tidak. Otak saya saat ini sedang penuh dengan pikiran dagangan saya yang makin hari makin sepi peminat. Ditambah lagi dengan kondisi pandemi seperti ini. Bikin mumet pokoknya.

Tapi supaya dia tidak kecewa kemudian sebisanya saya jelaskan sedikit tentang menjamurnya media massa (perusahaan pers) pascareformasi. Salah satu penyebabnya karena memang pendirian perusahaan pers diberikan kemudahaan untuk tumbuh. Dan temanya saat itu adalah keterbukaan informasi dan kemerdekaan berpendapat. Jadi, seperti kucing yang dilepaskan dari kandang setelah berhari-hari dikunci di dalamnya. Langsung berhamburan keluar dengan tingkah dan polah khasnya. Namun seperti kita tahu, sangat disayangkan pertumbuhan kebebasan pers ini tidak didukung oleh sumber daya yang mumpuni. Akibatnya, informasi sangat mudah diproduksi tanpa akurasi.

Kemudian, juga banyak pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab terjun ke dalam kancah ini. Dampaknya, informasi jadi semakin seliweran tidak karuan. Mengajukan dan membungkus opini sebagai informasi. Istilahnya, framing (dalam pengertian yang negatif) untuk kepentingan orang seorang atau kelompok. Hal ini yang perlu kita sadari dan waspadai bersama.

Media sosial jadi salah satu ladang subur penyebarannya. Dan ini sangat massive, jadi agak sulit dikendalikan. Atau mungkin pihak berwenang yang belum serius mengendalikannya, aku gak eruh. Mungkin hanya rumput bergoyang yang tahu. Makanya kita sebagai pembaca (konsumen) harus pintar memilih mana media yg benar-benar valid informasinya. Harap selalu ingat prinsip imparsialitas dalam jurnalisme. Tidak berat sebelah, dan juga objektif, netral, berimbang, dan adil dalam hal pemberitaan.

Ada media yang memang sengaja diciptakan untuk memojokkan umat agama tertentu, ras tertentu, kelompok tertentu, dan pemerintah. Kreatornya juga bisa siapa saja. Bisa satu atau lebih orang. Yang jelas kepentingannya memang sengaja membuat benang kusut. Sengaja menciptakan kekisruhan dan adu domba.

Untuk kepentingan mencari data, carilah pada website resmi yang data (beritanya) bisa dipertanggungjawabkan. Atau langsung cari melalui sumber tertulis seperti buku, koran, dan lain-lain. Sempatkan waktu untuk ke perpustakaan daerah, misalnya. Dan jangan mudah menerima informasi tanpa cross check dulu dari sumber lainnya. Sekelas wikipedia yang terkenal lengkap itu saja tidak bisa dipakai sebagai referensi bagi penulisan karya tulis ilmiah.

Kembali lagi, dijaman internet seperti ini kita dituntut tangguh dan tidak mudah terseret kemana-mana. Perkaya diri dengan informasi dan pengetahuan dari berbagai macam sudut pandang. Jangan mudah mengambil kesimpulan tanpa kita mengerti kebenarannya. Kita harus jujur dengan kapasitas ilmu dan pengetahuan yang kita miliki. Jangan mudah keminter dan minteri orang lain.

Diakhirnya, saya berpesan kepada saudara saya itu, “Sudah, tidak usah banyak main medsos, biar pikiranmu tidak capek ngawang kemana-mana. Mending bantu saya nanam jahe saja. Nantinya bisa kita buat minuman anget-anget.

— sandy —

Leave a Reply