sastra

Nyanyian Petang Anak Nelayan
Blog
sastra

Nyanyian Petang Anak Nelayan [Bagian 2]

Nyanyian Petang Anak Nelayan [Bagian 2] Malam menanti fajar Dalam diam Senja masih dinanti pula Dalam harapnya yang tua Akankah beliau pulang? Sepekan lagi mungkin beliau balik Membawa kebahagiaan Lantas pergi lagi saat pasang naik Tertinggal bekal sepekan ke depan Bukan ikan yang dinanti Bukan perut lapar atau takut mati Inginnya hanya bapak pulang cepat […]

Read More
Nyanyian Petang Anak Nelayan
Blog
sastra

Nyanyian Petang Anak Nelayan [Bagian 1]

Nyanyian Petang Anak Nelayan [Bagian 1] Malam tiba Darat menghulu angin Menyurut nahkoda ke tengah laut Memalsu janji memekarkan batin “Esok hari, kita bisa makan!” Lidah ombak berbuih putih Tertawan gelombang menjilat bumi Ya … Ia gagah sebagai maha patih Menghunus keris berlaga mati Angin berbutir pasir terbang kencang Kecil-kecil muka ditampar Menikam hati, menusuk […]

Read More
novel nasi padang
Blog
sastra

Novel Nasi Padang

Novel Nasi Padang Dulu, kali pertama saya masuk ke dunia lain di balik kata adalah melalui novel Ombak dan Pasir tulisan Nasjah Djamin. Memilih bolos kelas ke perpustakaan sekolah demi menyelesaikan membacanya. Pada waktu yang lain saya pinjam kembali buku itu, dan sampai sekarang tidak pernah mengembalikannya lagi ke perpustakaan. Itu juga awal saya mulai memandang […]

Read More
kamus
Blog
sastra

Sedikit Bahas Bahasa Indonesia

Ada Apa dengan Bahasa Indonesia Ditetapkannya bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa dan Sastra oleh Kemdikbud dan lembaga terkait lainnya merupakan wujud kecintaan terhadap bahasa dan sastra Indonesia yang tercantum dalam resolusi Kongres Pemuda ke-2 silam. Beberapa waktu belakangan pihak-pihak yang peduli terhadap bahasa Indonesia mengutarakan keprihatinan atas menurunnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, […]

Read More
Post-artikel-template-sajak-1
Blog
sastra

Sajak Kopi #1

Sajak Kopi #1 Sampai di kaki Merapi ini aku mengejar jejakmu. Menjelajahi teduh paras cemara berseling wangi napasmu. Senyum yang melambai sebagai mengkaut kesunyianku. Menyimpannya rapat dalam tumpukan-tumpukan cumbumu. Tanpa menyesap kopi aku tak bisa apa-apa. Tak kuasa menerka sesuatu darimu setitik pun. Tiada asam kopi di ruang mulutku juga berarti kenaasan. Hanya terjaga dalam […]

Read More