Iri

iri gandeng tangan

Saya sedang iri dengan anak-anak muda yang jatuh cinta. Benar-benar iri. Mungkin lantaran saya sudah lama tidak jatuh cinta.

Seandainya iri yang kali ini dikenai pasal dosa, ya sudah, saya pasrah. Tidak akan minta banding.

Jadi teringat film 70-an dulu, “Yang Muda Yang Bercinta”. Kalau film itu terbit sekarang mungkin bisa jadi dicekal, atau paling tidak penuh dengan sensor. Di sini yang bagus-bagus memang biasanya diperlakukan begitu.

Saya sedang mengingat-ingat saat jatuh cinta dulu. Biasanya akan susah tidur, pikiran entah penuh dengan apa saja. Adzan subuh yang jadi pengingat bahwa mata sudah semalam suntuk tidak pejam. Kemudian juga mulai sulit fokus. Apalagi kalau sedang mengerjakan proyek, sudah pasti bakal molor dari jadwal. Tidak ingin mengerjakan apa-apa, komputer hanya dibiarkan menyala sendirian. Anehnya lagi, perut juga serasa mandiri dan tidak mau merepotkan empunya. Sama sekali tidak menagih untuk diisi makanan.

Imajinasi sendirinya tumbuh liar. Membayangkan seolah-olah si dia sedang duduk di sebelah, mengobrol panjang lebar. Cerita tentang masa kecilnya yang konyol. Kemudian, si dia tertawa dengan ceritanya sendiri. Tawa yang kecil tapi manis. Meskipun tumbuh liar namun itu imajinasi yang membahagiakan.

Tapi saat imajinasi buyar oleh sesuatu, amarah pasti akan melonjak. Hatinya dipenuhi dorongan yang tak jelas asalnya dari mana. Menggebu-gebu. Panas dingin rasanya. Logikanya mulai tidak berjalan. Berang. Takut. Kebingungan.

Kondisi yang tidak nyaman sebetulnya. Tapi saya merindukan itu sekarang.

gandeng tangan


“Masih mumet?!” tanya kawan saya. Saya cuma bisa menimpali dengan senyum kering yang tipis.

“Iya, lama-lama seperti masokhis,” jawab saya pelan.

“Jatuh cinta kok pakai teori. Jatuh, ya jatuh saja. Kalau ndilalah sakit, ya sudah nikmati saja. Iya kan…?!”

Saya tidak menggeleng, tidak juga mengangguk.

Kemudian berujar pendek, “Bapakku dulu bilang kalau lantas kesakitan namanya bukan jatuh cinta. Itu namanya jatuh betulan…”

“Tau kau…?!” potong kawan saya. “Bapakmu itu bukan tipe advontur,” katanya lagi.


Saya lupa dulu pernah baca buku yang mana, katanya, lelaki yang sedang jatuh cinta itu kalau tidak bisa membuat si wanita jatuh cinta kepadanya, ia akan membuat si wanita jatuh kasihan kepadanya. Memang kelihatannya masuk akal. Tapi entah betul entah tidak. Yang saya mengerti, lelaki inginnya dijatuh cintai, bukan dijatuh kasihani.

Ah, lagi-lagi saya iri. Benar-benar iri.

 

— sandy —

Leave a Reply