Jadikan Kritik untuk Pembelajaran

Post-artikel-template-dont-blacme-1

Belajar dari Kritik

Banyak yang bilang kalau di negara ini kita susah untuk melakukan kritik. Biasanya pula dikatakan oleh sebab budaya feodal yang mengakar kuat pada masyarakat kita. Pada lingkup keluarga, dunia usaha, ataupun pemerintahan masih kental sekali terlihat budaya feodal ini.

Misal saja, kalau orang tua sudah memberi keputusan, haram hukumnya untuk ditentang. Atau bila si bos memberi perintah, sudah pasti tak ada satupun bawahan yang boleh mengeluarkan kritik atas itu. Apalagi dalam hal pengelolaan pemerintahan, bila kita mencoba mengajukan kritik terhadap kebijakan yang dihasilkannya, sudah bisa diperkirakan bakal mendapat cemooh dari kelompok pendukung kebijakan tersebut.

Post-artikel-template-dont-blacme-1

Padahal tujuan kritik adalah apresiai, evaluasi, dan ekspansi (baca: pengembangan). Tidak hanya dalam hal seni, kritik ini dapat kita terapkan terhadap dimensi lain yang lebih luas.

Bisa kita katakan gerak utama dalam kritik adalah berpikir. Berpikir yang bukan asal berpikir. Berpikir yang benar membutuhkan topangan metodologi. Saya sendiri masih butuh banyak belajar untuk itu.

Jangan gampang berpayung pada istilah berpikir bebas. Atau malah juga terlampau radikal. Tapi berpikirlah dengan merdeka. Tidak hanya meniru atau taklid buta terhadap sesuatu yang sama sekali belum kita olah.

Berani jujur terhadap pengetahuan yang kita peroleh, dan harus otentik berdasar pencarian dan pengalaman yang bersifat privat agar kemudian dapat berdaulat terhadap keputusan diri.

Kritik sebetulnya jembatan termudah bagi kita untuk melihat diri dan memahami variasi.

Semangat belajar.

— sandy —

Leave a Reply