Lupa Baca Buku Kiri

Post artikel template mask

Tipe-tipe orang tua jaman dulu biasanya suka “puyeng” saat melihat anaknya membaca buku-buku orang kiri. Jangan sampai anaknya membaca Manifesto Komunis-nya Marx dan Engels, pikir si orang tua.

Biasanya alasannya sederhana, takut anaknya jadi komunis. Padahal si orang tua tidak mengerti juga apa itu marxisme dan komunisme. Lantas akibatnya di kemudian hari si anak merasa terkepung oleh dosa walau hanya untuk sekedar membaca buku-buku tersebut. Hasilnya, tidak mengerti apa itu kiri, dimana itu kanan. Mungkin sebabnya karena hegemoni era orde baru sehingga iklimnya menjadi begitu.

Pertanyaannya, bagaimana bisa kita merasa aman kalau tidak mengenal siapa kawan dan siapa lawan? Pertanyaan itu penting pada konteks perang ideologi yang hingga kini menurut saya masih berlangsung. Yang dinyatakan sebagai lawan itu yang seperti apa; atau sebaliknya, yang dikatakan kawan itu yang macam bagaimana?
Tanpa pengetahuan yang cukup akan menjadi sulit menjawabnya.

Karena konteksnya perang maka kita langsung terbang kembali ke abad ke-5 untuk mengutip ajaran sang maestro strategi perang, Sun Tzu:

“Oleh karena itu jika Anda mengenal musuh dan mengenal diri Anda sendiri, Anda tidak perlu takut akan hasil dari ratusan peperangan.
Apabila Anda mengenal diri sendiri namun tidak mengenal musuh Anda, dalam setiap kemenangan yang Anda dapatkan, Anda juga akan menderita kekalahan.”

Selain jumlah tentara (senjata) dan medan (iklim/cuaca), ada juga faktor yang menjadi poin penting dalam strategi Sun Tzu, yaitu ideologi (musuh).

Tokoh yang bisa diambil sebagai contoh adalah Snouck Hurgronje, seorang strategist yang ditugaskan kerajaan Belanda untuk membantu dalam penaklukan Aceh.

Perang Aceh berlangsung lama. Pemerintah kolonial Belanda kesulitan untuk menaklukan Aceh yang kebanyakan masyarakatnya menganut agama Islam (fanatik).
Snouck kemudian diutus kerajaan Belanda untuk menjadi peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg (Bogor) dan Guru Besar Bahasa Arab di Batavia sebelum menjadi penasihat dalam misi penaklukan tersebut.

Kenapa Snouck yang dipilih? Karena ia sangat mengenal dan mendalami betul tentang Islam. Bahkan sejarah menuliskan bahwa ia mahir berbahasa Arab, hapal Al Quran, dan sempat pula berhaji. Selain itu, ia juga mahir berbagai macam bahasa termasuk melayu-Aceh.

Pada saat mulai memasuki Aceh ia menggunakan nama alias Haji Abdul Ghoffar. Selama 2 tahun penelitiannya terhadap Islam dan masyarakat Aceh, Snouck menulis ribuan makalah tentang Aceh, termasuk mengenai Islam di Indonesia. Dan juga menulis laporan penelitian yang kemudian dibukukan dengan judul Rakyat Aceh (De Acehers).

Dalam buku Politik Islam Hindia Belanda (1986), Aqib Suminto, Snouck Hurgronje membedakan Islam menjadi 3 bidang aktivitas, yaitu Islam sebagai bidang ritual, bidang sosial kemasyarakatan, dan bidang politik.
Pada 3 bidang yang berbeda ini Snouck menggunakan pendekatan dan strategi penaklukan yang berbeda pula. Hingga akhirnya Aceh takluk pada 1904; walaupun tidak semua wilayah dapat dikuasai Belanda.

Kembali lagi ke masa sekarang, banyak wacana untuk memulai kembali membangun budaya baru sebagai tandingan melawan globalisasi (counter culture). Tapi sayangnya tidak diimbangi dengan pemahaman yang mendalam tentang gerak hisap jari-jari gurita imperialisme dan kolonialisme gaya baru.

“Ah, itu cuma teori,” begitu celetukan yang santer terdengar. Pada akhirnya kebanyakan juga menjadi tak acuh dan menyimpan dalam batinnya sebagai retorika saja.

Kemudian ada juga yang beramai-ramai heboh, antara kebingungan dan ketakutan akan rumor penanaman chip ke dalam tubuh yang dikamuflasekan dalam vaksin Covid oleh kendali sekelompok elit dunia yang sangat berkuasa.

Kenapa bingungnya baru sekarang. Lha, smartphone android itu apa bukan kategori “chip” juga?

Apa itu bukan bibit dari “life engineering”?! — meminjam istilah dalam buku “Indonesia Dalam Rekayasa Kehidupan” tulisan Komjen. Pol. Dharma Pongrekun, Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), pada tayangan videonya Boss Darling –.

Mau menjadi pengguna teknologi yang “tansah eling lan waspodo” saja sudah sangat sulit.

Sebetulnya kita sedang asyik menikmati kemudahan teknologi atau kita yang tidak sadar sedang diperbudak teknologi? Atau lebih gamblangnya diperbudak pencipta teknologi?

Berapa banyak yang mengerti tentang “my activity” Google? Sebagai contoh secuil informasi yang diperbolehkan untuk diakses.
Berapa banyak orang yang tahu di waktu pandemi seperti ini Google resmi membuka infrastruktur google cloud di Indonesia (Jakarta) beberapa waktu yang lalu?

Di saat masyarakat terseok-seok mengurusi urusan mengisi perut dan berusaha keras mengakali hidup di masa pandemi, Google sibuk membangun gedung server baru tak jauh di sebelahnya.

Tapi ingat, ini bukan teori konspirasi ya!

— sandy —

Leave a Reply