Masih Saja Tidak Akur

domba-gelut

Kubu-Kubu itu Masih Saja Tidak Akur

domba-gelut

img\pexels.com

Kemarin sedang ada ramai-ramai di kampung sebelah. Pasalnya, saling ejek dan mengideotkan satu sama lainnya. Untung ributnya hanya di jagat maya, tidak face to face. Coba saja kalau seperti anak STM tawuran, sudah pasti klewang nancep di pelipis. Dan mau tidak mau akhirnya peristiwa itu santer terdengar di kuping saya.

Saya yang notabene cuma pengamen dan sesekali narik ojek ini, diberitahu tentang peristiwa itu oleh seorang kawan.

Kemudian kata saya, “Ngapain kamu laporan berita begituan ke saya. Memangnya saya pihak berwenang yang begitu kamu lapori terus mengambil tindakan mendamaikan. Atau kamu pikir saya seorang alim ulama yang hanya melalui perkataannya bisa membuat jutaan orang terhipnotis dan manut mengikuti arahan untuk islah. Atau malah kamu pikir saya seorang preman yang disegani banyak pihak sehingga kalau sampai saya sendiri turun tangan menengahi masalah begituan lantas membuat malu para pemangku kebijakan, sehingga mereka lebih dulu mengambil sikap, supaya tidak kalah bijak sama preman.”

Kemudian saya jeda omongan saya dengan nyruput kopi yang masih mengepul asapnya di meja sebelah. Di samping gelas ada juga sebungkus kretek mengintip-intip menanti dihisap.

Kata saya lagi menyambung, “Jangan heran sama yang begituan. Biar itu jadi urusan orang-orang pinter atau para penggede. Kita yang orang kecil dan bodoh ini sebaiknya banyak belajar dan jangan sok keminter. Perbanyak view supaya tidak picik melihat sesuatu. Perdalam pengetahuan agar menjadi ilmu yang bener-bener solid dan bermanfaat bagi kehidupan. Jangan cuma heran sama berita yang sumbernya cuma rasan-rasan. Nanti ndak maju-maju kita ini!”

Saya beranjak untuk menurunkan sangkar yang berisi sepasang burung Lovebird warna warni.

Sudah sini… Bantu saya nyemprot manuk saja, daripada melongo begitu!

— sandy —

Leave a Reply