Musik 90-an

Post-artikel-template-tevin-campble

Lagu Can We Talk dari Tevin Campbell ini tentunya tidak asing bagi remaja tahun 90-an. Lekat sekali dengan nuansa percintaan remaja semacam lagu Kisah Kasih di Sekolah yang dipopulerkan oleh Chrisye.

Beruntung bagi yang sempat merasai tahun 90-an dengan kekayaan karya musiknya. Kala itu musik dan musisinya muncul saling berseling membawa single hits yang bergantian naik turun di deretan top tangga lagu.

Pada rentang waktu itu juga kuping kita sangat dimanjakan. Daftar putar radio penuh diisi beragam genre musik. Tinggal pilih; semua ada. Mulai pop, rock, RnB, dance, metal, bahkan undergorund.

Ramainya karya musik ini mungkin untuk mengimbangi industri radio yang saat itu berada di masa kejayaannya. Juga mungkin saat itu industri musik sedang menemukan titik ekuilibriumnya. Setimbang antara permintaan dan penawaran.
Sebelum kemudian masa “Video (benar-benar) Killed the Radio Star” datang. Dan Apple yang kemudian mulai memperkenalkan tradisi mendengarkan musik yang baru melalui iTunes-nya.

Tulisan ini tidak berusaha membandingkan dengan musik era sekarang, hanya bernostalgia saja sebagai generasi 90-an, hehehe.

Karena ingatan tidak bisa menghilangkan Rick Price, Michael Bolton, Bryan Adams, atau Seal, pada barisan penyanyi pria.

Kemudian pada barisan wanita ada Spice Girl, Madona, Sade, Alanis Morisette, Jewel, Sania Twain, atau The Corrs. Tak lupa juga Britney Spears yang muncul di penghujung 90-an.
Untuk yang terakhir ini cukup membuat remaja pria saat itu susah mingkem sewaktu melihat video-video musiknya.

Di tribun band dan boyband juga sudah dipenuhi dengan penggemarnya sendiri. Kita tahu ada Westlife, Boyz 2 Men, Boyzone, NKOTB, atau MLTR.

Tidak hanya pop, musik rock juga sibuk mengibaskan rambutnya yang gondrong di mana-mana.
Kita tidak bisa melupakan Rock Bergema-nya Roxx yang berhasil menembus cangkang old school yang saat itu dipenuhi dengan rocker cover version.

Selain tentu saja dari barat ada GnR, Nirvana, RHCP, Pearl Jam, Green day, atau Oasis.

Tapi beberapa rocker gondrong patah hati terlihat memilih untuk duduk di sudut panggung dan menuliskan lagu yang sulit digusur keluar dari ingatan di kepala kita.
Sebut saja Love is on the Way, Since I Don’t Have You, When I See You Smile, Just Take My heart, atau Honestly.

Tidak cukup kalau semuanya harus dituliskan satu-satu. Beberapanya tadi hanya contoh keberagaman karya musik di era 90-an. Kita bisa menikmati manisnya musik hasil kegalauan Glam Rock, atau memilih semangat young and dangerous-nya Seattle Sound. Atau pesan mistis dari kematian khas Death Metal.

Yang jelas musik 90-an wajib mengisi daftar putar pemutar lagu di komputer atau gawai kita; paling tidak bagi saya sendiri.

Selamat malam.

— sandy —

Leave a Reply