Novel Nasi Padang

novel nasi padang

Novel Nasi Padang

Dulu, kali pertama saya masuk ke dunia lain di balik kata adalah melalui novel Ombak dan Pasir tulisan Nasjah Djamin. Memilih bolos kelas ke perpustakaan sekolah demi menyelesaikan membacanya. Pada waktu yang lain saya pinjam kembali buku itu, dan sampai sekarang tidak pernah mengembalikannya lagi ke perpustakaan.

Itu juga awal saya mulai memandang kisah dengan sabar. Mengurutinya satu per satu. Mencoba meminjam mata dari semua tokoh. Menengok berbagai jenis kecantikan. Merasai bermacam kehangatan tubuh, juga menjilat bersamaan pahit dan manis.

novel nasi padang

Sebagai orang yang tak punya latar pendidikan sastra, terlebih minim referensi, rasanya tak pantas saya menilai berlebih terhadap suatu karya sastra. Ngertinya cuma sebagai penikmat saja. Mentok hanya bisa menggantungkan label suka atau tak suka. Semisal, saya akan lebih dulu kagum dengan novel / cerpen dari penulis asal tanah sumatera dibanding penulis yang berbahasa ibu Jawa.

Ada saya pernah membaca artikel mengenai tanggapan tentang kumpulan cerita Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Kurang lebih apa yang si penulis rasakan sama dengan saya. Memang salah satu cerpen yang terbaik, bahkan saya bisa menggambar jelas dalam kepala suasana atap Manhattan dari jendela apartemen pada cerita tersebut. Tapi, tidak dalam maksud melakukan kritik, pada waktu yang lain setelah saya berusia lebih tua, saya kembali membaca cerpen tersebut, dan rasanya seperti membaca sebuah terjemahan.

Karya dari sastrawan tanah Sumatera, untuk saya, ternyata lebih membawa suasana yang lain. Lengkap dengan kata dan penuturan yang elok. Beberapa novel dari A.A. Navis, Abdul Muis, atau Hamka misalnya, tidak bisa ditolak, langsung membuat saya tercenung untuk kemudian merasa dekat dan bahkan jatuh hati dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Saya pasti akan kerasan berlama-lama di dalam kamar yang dalam imajinasi saya sudah berubah menjadi bangunan latar cerita seperti yang dikisahkan pada novel yang sedang saya baca.

Saya tidak mengerti juga tentang struktur bahasa, dan memang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup. Seperti apa itu karya sastra yang berstruktur bahasa Indonesia yang baik, misalnya, saya tidak paham. Atau, ternyata selama ini saya sendiri menulis tidak dengan struktur bahasa Indonesia yang benar, saya juga tidak mengerti.

Ternyata tidak sesederhana layaknya menilai seporsi nasi padang. Saya lebih mudah mengindra seporsi nasi padang di sebuah warung makan padang daripada sebuah tulisan novel. Saya cukup mengerti mana nasi padang yang dimasak oleh betulan orang padang, atau dimasak oleh orang jawa yang pernah lama bekerja di warung makan padang milik orang padang asli. Kebetulan di kota saya banyak formasi seperti itu; warung makan padang yang dibuat oleh orang yang bukan asli padang. Biasanya setelah ditanya-tanya barulah kita tahu si pemiliknya dulu pernah kerja di warung makan milik orang padang asli.

Kembali lagi, bagi saya, menikmati karya sastra semacam novel tak ubahnya seperti menikmati wajah kekasih. Selalu ada guratan yang baru pada senyumnya. Selalu melahirkan debar yang berdenyar. Juga, selalu meninggalkan rindu saat waktu memaksa berpamitan berlalu.

—sandy—

Leave a Reply