Masih Aja Berantem

perkara soulful dan skillful

Perkara Soulful dan Skillful

Sebenarnya sayang kalau orang-orang masih saja mudah diadu perkara SARA, apalagi dimasa pilih memilih seperti ini.

Kalau saja punya pengetahuan yang lebih banyak mengenai sejarah, arkelogi, antropologi, atau ilmu bantu lainnya yang mempelajari kebudayaan, mestinya isu SARA tidak akan relevan untuk menjadi friksi dalam masyarakat.

Teringat dulu saat masih awal belajar gitar—waktu itu ingin jadi musisi ceritanya—selalu saja bertemu dengan dua tipe pemain gitar; yang pertama bermain dengan penuh teknik dan dalam tempo sangat cepat, sedang yang kedua bermain dengan tempo pelan, hemat nada, dan musikal.

Selama perjalanan belajar, dua tipe ini saya temui sebagai dua kubu besar yang ternyata tidak akur-akur amat. Kalau diingat, saat itu, seperti ada jurang besar yang membelah di antara keduanya. Dan pada keduanya tidak ada satupun yang berinisiatif membangun jembatan penghubung.

Pemain gitar cepat atau yang dikenal dengan shredder biasanya akan selalu bermain dengan banyak nada yang dimainkan dalam tempo sangat cepat, serta penuh dengan kemampuan teknis yang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Pada tingkat berikutnya ia akan menjadi virtuoso yang tidak hanya terampil memainkan gitar, namun juga membuat komposisi musik yang mewah. Mereka inilah yang digelari sebagai dewa gitar. Kongkownya juga di langit para dewa gitar.

Di kubu yang berlawanan ada para pemain gitar yang bermain dengan tempo yang bahkan sangat lambat, minim nada, dan selalu berusaha membuat satu per satu notasi nada itu terdengar mahal. Kemampuan teknis bermain gitarnya pas-pasan, tapi tone (suara) yang dihasilkan sanggup membuat bulu kuduk berdiri. Mereka ini juga setingkat dewa, biasanya duduk bersenandung santai di lounge-nya para dewa gitar, dikelilingi waiters dan bellboy yang ikut bersenandung pula.

Kemudian, yang disayangkan ada semacam glorifikasi yang berlebih dari masing-masing kubu ini mengenai jenis permainan gitar masing-masing. Ujungnya, merendahkan kubu sebelahnya. Biasanya para pemain gitar pemula yang beranggapan begitu.

Para pemain gitar rock, speed rock, heavy metal, speed metal, dan semua yang bermain di kecepatan tinggi, selalu meletakkan keterampilan ini sebagai mahkotanya. Sehingga pemain gitar lain yang tak bisa bermain dengan cepat sama saja tidak bermahkota. Atau, berarti bukan raja.

Sebaliknya pemain pop balada, folk, blues, dan semua yang bermain dalam tempo yang lebih lambat, selalu mengenakan ragam soul ini menjadi tiara di kepalanya. Seolah yang tidak bermain dengan mengedepankan soul sangat dangkal dan miskin makna.

Semakin tajamlah bibir keduanya mencibir. Skillful dan soulful semakin seperti kutub magnet yang senama; selalu saling tolak menolak.

Tapi itu dulu. Saat saya masih muda dan bertemu dengan pemain-pemain gitar yang muda pula. Sewaktu itu pernah juga saya temui pemain gitar blues yang selalu membanggakan gaya call-and-response dari musik blues. Katanya, “tidak ada musik yang bisa bercakap-cakap seperti ini, tidak ada yang soul-nya sedalam blues.”

Lagaknya sudah seperti pakar blues. Padahal anak itu juga belum mesti tahu yang mempopulerkan blues di Indonesia adalah Benyamin S. dengan lagu-lagu seperti Blues Kejepit Pintu, I’m Teacher, atau Markonah. Dipikirnya blues itu sesederhana scale pentatonis.

Itu salah satu contoh yang dapat saya ingat tentang lagak arogannya blueser muda. Biasalah, namanya juga anak muda.

perkara soulful dan skillful

Semakin bertambah usia dan pengalaman, mau tak mau semakin dewasa juga dalam melihat luasnya cakrawala musik. Kawan-kawan yang lain pun juga begitu. Selain terus mengasah kemampuan bermain gitar, juga terus membenahi persepsi.

Tak ada lagi perdebatan mengenai lebih jago mana antara pemain gitar soulful dengan skillful. Adalah perbuatan yang sia-sia meninggikan Eric Clapton dibandingkan Michael Angelo Batio; pun sebaliknya. Bukan cuma merugi, tapi bangkrut.

Gaya musik, aliran musik, genre, sub-genre, terserah mau menyebut apa, itu juga tumbuh sesuai periodenya. Semua punya alasan pemberontakannya masing-masing.

Blues bisa lahir karena ada rintihan dan jeritan dari mulut-mulut pemilik punggung yang menganga berdarah dicambuki.

Atau, metal yang tumbuh dari kelompok pemuda yang menggunakan musik sebagai perlawanan, ekspresi kemarahan, eksklusivitas, serta tameng alienasi dari arus utama yang ditentangnya.

Atau, rock yang besar karena ingin terbebas dari norma lama yang kaku, meruntuhkan konstruksi bias gender dan perbedaan warna kulit.

Atau, techno yang dewasa dengan mau beradaptasi untuk selalu melibatkan teknologi yang selalu diperbarui.

Jadi, tidak relevan untuk bertanya “bagus mana antara pemain gitar soulful dengan skillful?”

Itu sama tidak relevannya dengan pertanyaan “lebih enak mana antara ketoprak dengan rendang?”

Jawabannya akan berbeda-beda; tergantung siapa yang memakannya. Kalau saya yang menjawab, “keduanya sama-sama tidak enak!”

Alasannya, karena saat itu gusi saya sedang bengkak besar. Maka, tidak ada satu makanan pun yang akan terasa enak. Tidak ketoprak, tidak juga rendang!

One thought on “Masih Aja Berantem”

Leave a Reply