Teringat Britpop

R-966325-1485371605-8267.jpeg

Musik adalah salah satu corong budaya yang paling ampuh. Saya harus menyebut britpop (British Pop) sebagai contohnya.
Aliran musik ini sangat mudah dinikmati (easy listening), bahkan oleh kaum milenial sekarang. Musiknya tidak terlalu pop yang umumnya melankolis, namun juga tidak terlalu rock yang senang tampil gahar dan sangar. Lahirnya aliran musik ini merupakan sebuah respon atas invasi grunge dari Amerika yang membabi-buta di kisaran tahun 1990.
Band semacam Nirvana, Pearl Jam, Silverchair, dan kawan-kawan berhasil menembus radio-radio di hampir seluruh penjuru dunia.

Musisi muda di London tak bisa tinggal diam dengan itu semua. Maka kemudian lahirlah hits dari band seperti Supergrass, Elastica, Travis, dan lainnya.

R-966325-1485371605-8267.jpeg
sumber: discogs.com

Saya masih ingat saat terkagum-kagum dengan band Suede setelah melihat video klip “Beautiful Ones” untuk pertama kalinya di Mtv. Kekaguman saya hanya sebatas pada gaya dan mode pakaian dari Brett Anderson CS. Belum mampu melihat yang lebih luas dari itu. Maklum sajalah, saat itu saya masih bersekolah di bangku SMP.

Gebrakan awal britpop memang dibuka oleh single-single dari Suede dan Pulp. Kemudian disusul Oasis dan Blur. Keempatnya merupakan band britpop terlaris dan dijuluki sebagai “Big Four“.

Britpop merupakan dinamika pada skena musik indie Inggris yang diusung oleh band-band yang dipengaruhi gaya musik British Guitar (1960-an), glam rock (1970-an), dan indie pop (1980-an).
Menariknya, britpop bukan melulu mengenai industri musik komersial, namun juga sebagai sebuah gerakan budaya (culture movement) yang dipicu oleh perubahan tren musik dan budaya khususnya grunge dari Amerika. Britpop juga merupakan penopang gerakan budaya Inggris yang lebih besar yang disebut Cool Britannia. Cool Britannia adalah gerakan yang dipelopori oleh kaum muda Inggris pada dekade 1990 untuk mengembalikan lagi nasionalisme dan kebanggaan terhadap budaya mereka sendiri yang sempat jatuh pada dua dekade sebelumnya akibat lemahnya pemerintahan negara di bawah partai konservatif. Kesuksesan britpop menjadi suntikan semangat optimisme baru bagi Inggris.

Penetrasi britpop berhasil menembus semua belahan benua, termasuk Amerika — walau kemudian memudar paska tahun 2000 seiring memudarnya pesona grunge —.

Musisi dari band britpop memiliki gaya tampilannya sendiri; nyentrik dan segar khas muda mudi british. Menampilkan lirik lagu dengan tema yang relevan dengan cerita dan budaya mereka, bahkan juga secara tidak langsung menginformasikan tempat / daerah yang menarik untuk dikunjungi. Aksen kental British English yang mereka perlihatkan juga menjadi karakter yang kuat bagi asal musik mereka. Kesemuanya merupakan bentuk kecintaan dan apresiasi mereka terhadap budayanya sendiri.

Bagi mereka musik tidak hanya dipandang sebagai produk industri saja, juga bukan hanya ekspresi seni saja. Pada tahap lebih lanjut, musik merupakan wujud budaya yang konkret.
Musik menjadi representasi kebudayaan dan identitas dari mana musik dan musisinya itu berasal. Juga menjadi pagar dan tapis bagi budaya dari luar.

Ya kalau di negara-negara benua Eropa dan Amerika, tidak usah ditanya lagi. Mereka sudah pada tahap itu. Tidak “sedang mencari jati diri”. Bahkan sudah pada tahap mengekspor kebudayaan.
 
Kalau di Asia ada Jepang yang cukup kuat menembakkan rudal J-pop di tahun 2000-an. Efeknya juga luar biasa. Bak kios rokok kaki lima, Harajuku style menjamur di mana-mana.
 
Kemudian, ada Korea Selatan yang saat ini semakin dalam menancapkan cakar-cakar lentik K-pop ke seluruh penjuru. Melalui musik, negara ini seolah-olah ingin meng-korea-kan seluruh belahan dunia.

Sedari awal, tulisan ini memang tidak berusaha untuk menyambungkannya dengan perkembangan musik tanah air. Saya hanya bernostalgia dengan keunikan britpop pada dekade 1990.
Dan sampai akhir tulisan ini juga tidak akan menghubungkannya dengan perkembangan musik tanah air. Biar saja.

—sandy—

Leave a Reply