/The Social Dilemma [Bukan Review]

the-social-dilemma

/The Social Dilemma [Bukan Review]

social-dilemma-netflix

 

Beberapa waktu yang lalu netflix meluncurkan film bergenre doku drama berjudul The Social Dilemma. Bagi saya yang awam akan teknologi ini, film tersebut cukup mengejutkan. Dalam film tersebut dipaparkan berbagai hal buruk mengenai efek negatif dari media sosial. Salah satunya adalah polarisasi. Padahal setahu saya media sosial belakangan ini memberikan kemudahan yang luar biasa, misalnya dalam hal kemudahan akses informasi, kecepatan ekseskusi, kekompatibilitasannya dengan kehidupan kita sehari-hari. Narasi moleknya, peradaban baru sedang tumbuh berkembang dipicu kemajuan teknologi media sosial ini.

Fakta yang disuguhkan dalam film ini juga bukan asal-asalan. Narasumbernya bukan ecek-ecek. Semuanya adalah orang-orang / arsitek di balik layar media sosial raksasa seperti facebook, pinterest, google, instagram, dan lainnya. Berikut beberapa dari mereka: Tristan Harris, dia sempat menghabiskan waktunya selama tiga tahun sebagai Ahli Etika Desain Google; Aza Raskin, sejak 2008-2010 dia bekerja sebagai Head of User Experience di Mozilla Labs; Justin Rosenstein, pada 2007-2008 dia menjadi pimpinan teknis yang bertanggung jawab atas “Halaman Facebook”, “tombol Suka Facebook”, dan “Beacon Facebook”. Sebelumnya sejak 2004 dia bekerja di Google; Tim Kendall, dia adalah mantan Presiden dari platform Pinterest. Dan masih banyak narasumber kompeten lainnya.

Secara naif kita orang awam menganggap kemunculan media sosial adalah sebuah kemajuan. Kemudahan komunikasi dan kecepatan eksekusi dipandang sebagai sebuah lompatan teknologi yang gemilang.
Platform (wadah dari suatu sistem) yang terus berkembang mengikuti pola user friendly selalu dianggap semata-mata hal yang sepenuhnya positif. Namun, kita tidak pernah benar-benar sadar bahwa selalu ada lembaran lain dibalik mata uang atas nama teknologi media sosial ini. Ada dilema yang sedang dihadirkan oleh berjalannya media sosial tersebut.

Para narasumber sendiri menyampaikan ekses-ekses buruk tersebut. Beberapa penilitian yang menguatkan hal itu juga ditampilkan pada film ini. Algoritma bisnis di balik media sosial ini membawa ekses yang tidak main-main terhadap masyarakat, bahkan lebih besarnya terhadap kebudayaan dan peradaban.

Sejatinya kita sebagai pengguna (user) sama sekali tidak mengerti algoritma apa yang sebetulnya sedang dijalankan. Sebagian tidak ngeh, dan sebagiannya lagi tidak ambil peduli. Hanya para strategist di balik platform besar itu yang benar-benar mengerti apa yang sedang mereka rencanakan dan jalankan. Bahkan, mereka sendiri tidak benar-benar bisa mengerti resiko dan apa yang akan terjadi dari strategi yang sedang mereka jalankan. Jangkauan penglihatan mereka untuk melihat dampak buruk dari strategi yang sedang mereka jalankan pun tidak cukup jauh. Algoritma ini berjalan hanya semata-mata bisnis. Memetakan semua aktivitas pengguna sedetil-detilnya untuk kemudian dapat digunakan sebagai data berharga, dalam pengertian ini menjadi produk, yang nantinya akan ditawarkan (dilelang) kepada pengiklan yang membutuhkan.

Semua aktivitas kita di media sosial terpantau, tercatat, dan tersimpan pada server berkapasitas amat besar. Sedari kita login, konten (tulisan, foto, video) apa yang kita lihat, aplikasi terhubung apa saja yang sedang kita akses melalui media sosial tersebut, berapa lama kita aktif / menggunakannya, hal apa saja yang menjadi minat dan kesukaan kita, seberapa besar engage kita terhadap konten-konten yang kita temui di beranda, dan lain-lain. Maka kemudian, apa yang kita lihat pada beranda media sosial (yang disuguhkan) selalu unik, artinya tiap akun media sosial memiliki tampilannya sendiri-sendiri sesuai dengan minat dan aktivitas akun tersebut.

Media sosial yang kita lihat sebetulnya berisi hal-hal yang sesuai dengan pola hidup kita. Kebiasan hidup berdasar aktivitas pengguna media sosial dipetakan dengan akurat oleh algoritma bisnis tersebut dan direfleksikan kembali kepada pengguna. Laman lini masa media sosial masing-masing orang berbeda. Laman lini masa media sosial (beranda) akan selalu menampilkan apa-apa yang sesuai kecenderungan kita. Apa yang kita sukai, apa yang selalu kita cari. Semua yang tampil pasti “pro” kepada kita. Kesukaan, kecenderungan minat, grup hobi, dan lain-lain, satu persatu akan disuguhkan dalam fitur “related” (yang memiliki korelasi dengan pola aktifitas kita).

Nantinya pola-pola ini yang kemudian akan digunakan pemilik media sosial untuk dijual / dilelang kepada calon pengiklan. Tawaran dari pemilik platform media sisoal tentunya iklan mereka akan tampil tepat sasaran kepada pengguna potensial alias tampil di berbagai macam laman yang menjadi fitur pada media sosial tersebut. Misalnya, iklan stik hokey akan tayang / ditampilkan pada pengguna dengan kesukaan dan minat terhadap olah raga hokey, baik tampil di fitur lini masa, story, grup, dan lain-lain.

Dilema yang kemudian terjadi adalah polarisasi yang terjadi belakangan ini. Algoritma bisnis yang sedang dijalankan oleh media sosial ternyata membawa efek yang buruk. Sebagai contoh kita bisa melihat terpecahnya kubu “Trump” dan “non Trump” saat pilpres Amerika kemarin. Atau juga, terpecahnya kubu Jokowi dan Prabowo pada pilpres Indonesia lalu. Saking kerasnya perpecahan tersebut, sampai kini kita masih saja mendengar dan melihat pertarungan antara cebong dan kampret di media sosial, padahal Jokowi dan Prabowo sekarang sudah duduk dalam satu kabinet.

Sederhananya, para pengguna media sosial di kubu Trump akan selalu disuguhi informasi tentang Trump terus menerus, baik berupa postingan video, foto, artikel yang dishare ulang, dan sebagainya. Dan semua yang tampil seolah-olah memberitahu bahwa hanya Trump yang positif dan memiliki segudang pretasi. Sebaliknya pada kubu non Trump, media sosial mereka pun diisi oleh berbagai konten yang kontra Trump. Maka sudah bisa dipastikan perbedaan di antara keduanya kian hari kian meruncing. Sulit sekali untuk lantas bisa berpandangan objektif.

Bagi pengguna awam yang tidak mengerti tentang algoritma ini tentu akan terbawa kepada arus poalrisasi tersebut. Mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka nilai sebetulnya sudah tidak objektif lagi, sehingga membela mati-matian tanpa mau memikirkan lagi untuk mencari informasi pembanding selain dari yang tampil pada media sosial mereka.

Salah satu hal yang dapat saya tangkap dari The Social Dilemma adalah hal tersebut di atas. Beberapa fakta tadi disampaikan langsung oleh para narasumber. Media sosial yang digadang-gadang menjadi pola kehidupan baru yang modern ternyata tidak selalu berefek positif, bahkan telah membawa keburukan yang nyata, yang kemudian menjadi dilema kita bersama.

Dari informasi yang saya dapat baik dari artikel atau video di youtube, banyak tokoh publik terutama yang mengerti tentang perkembangan teknologi khususnya media sosial sudah lama tidak lagi menggunakan platform tersebut. Sebagai contoh facebook, beberapa tokoh publik tersebut sudah tidak lagi menggunakan media sosial untuk kebutuhan pribadinya. Mereka sudah menghapus akun dan tidak menginstalnya lagi pada perangkat telepon genggamnya. Alasannya ya sederhana, yang pertama jelas tidak akan hidup dalam domain platform tersebut, dan tidak ingin aktivitasnya terpetakan. Juga, tidak ingin terkontaminasi oleh informasi yang tidak pasti dari mana sumbernya.

Lantas apa iya kita bisa benar-benar terlepas dari pengamatan para raksasa pemilik teknologi itu. Wong nyatanya kita juga masih menggunakan telepon android dan juga iphone yang jelas-jelas merekam semua aktifitas penggunaan telepon seluler kita. Selama kita masih menggunakan android dan iphone tentu saja kita masih berada dalam domain (dunia) mereka.

Kalau dilihat yang sedang terjadi sekarang, apa masih mungkin kita benar-benar bisa terlepas dari teknologi dan para raksasa pemilik bisnis teknologi tersebut. Semua aplikasi yang kita jalankan / manfaatkan nyatanya memang berjalan di dalam domain mereka.

Apakah kita sebagai pengguna teknologi masih bisa bebas seperti saat sebelum tahun 90 an dulu, yang berkomunikasi dengan saudara jauh hanya menggunakan surat? Atau, kita mesti nyaman mondar mandir dan berlama-lama mengurus hal surat menyurat yang selalu rumit. Atau, kita memilih nyaman menggunakan kemudahan teknologi dan mengeksekusi segala sesuatu hanya dari balik meja kerja di dalam kamar tidur kita?

Jawabannya tentu tidak mudah, lagi pula juga bukan kewajiban saya menjawab itu semua. Saya hanya ingin membagikan informasi dalam The Social Dilemma yang mungkin belum kamu ketahui. Sebetulnya sudah beberapa waktu yang lalu saya menontonnya, tapi belum sempat untuk membuat tulisan mengenai film itu.

Film ini bisa membangkitkan lagi kewaspadaan kita sebagai pengguna media sosial, bahwa ada yang sedang mengendalikan itu semua. Ada para arsitek teknologi di balik itu. Ada pula algoritma bisnis yang sedang berjalan yang nyatanya tidak kompatibel dengan isu politik, misalnya. Dan masih banyak fakta lainnya yang dapat kamu mengerti melalui film tersebut.

Bagi yang belum menoton bisa menontonya melalui link ini, Nonton Film The Social Dilemma

Semoga sedikit tulisan ini dapat memberi informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Jangan lupa komen dan bagikan artikel ini juga ya. Trims

Leave a Reply